Restii sii Putri Bungsu
September 2017
S M T W T F S
« Sep    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Nama   : Resti Hidayah

NRP    : G64100074

Laskar : 7 (tujuh)

“Berawal dari Satu Kamar Kosan”

 

          Ini adalah cerita dari sepasang suami istri yang paling hebat yang pernah resti temui. Sepasang suami istri yang bernama H.Nazirni Nukman dan Hj. Raflis. Namun mereka lebih dikenal dengan sebutan pak Nasir dan buk Nasir. Sepasang suami istri yang memiliki 5 orang anak, 3 laki laki dan 2 perempuan. Untuk ukuran seorang pegawai negeri sipil dan ibu rumah tangga biasa, memiliki 5 orang anak adalah tanggungan yang cukup berat buat mereka. Namun cita cita mereka untuk membiayai pendidikan anak anak mereka tidak surut karena itu.

Setiap hari pak Nasir selalu pergi ke kantor untuk memeras keringat hanya demi terpenuhinya semua kebutuhan keluarganya. Dan begitu pula dengan istrinya, ia selalu menjadi ibu rumah tangga yang baik untuk anak dan suaminya. Bahkan buk Nasir rela setiap pagi membuat es manis untuk di jual ke sekolah sekolah hanya untuk menambah penghasilan mereka. Dan Alhamdulillah penghasilan dari menjual es manis itu cukup untuk memenuhi kebutuhan makan mereka sehari hari dan penghasilan bulanan dari pak Nasir mereka tabung untuk biaya pendidikan anak anaknya.

            Lalu suatu hari, sepasang suami istri ini berfikir untuk membuat suatu usaha, karena mereka tau dengan penghasilan seorang pegawai negeri biasa itu tidak akan cukup nantinya untuk membiayai biaya pendidikan anak anaknya. Lalu mereka berniat untuk membuat kos kosan kecil di rumah mereka. Yaa…. Awalnya mereka hanya mampu membuat satu kamar kosan. dan untuk menambah penghasilan, buk nasir menawarkan jasa catering kepada anak kosan mereka. Awalnya mereka gag yakin dengan memiliki 1 kamar kosan bisa menjamin masa depan anak anaknya. Lalu mereka berniat meminta bantuan dana kepada saudara mereka. Tapi bukannya bantuan yang mereka dapati, tapi malah hinaan dan cemoohan yang mereka peroleh. Bagaimana buk nasir tidak menangis saat saudaranya sendiri mencemmoh mereka dengan ucapan “Allahh….. kalian hanya pegawai negeri miskin… jangan bermimpi untuk bisa memasuki anak kalian kuliah…. Mungkin pakaian dalam kalian saja sekarang sudah terjual buat makan sehari hari.. jangan mimpi lah kalian !” astagfirullahalazimmm….. bagaimana mungkin seorang saudara bisa berkata seperti itu .

            Tapi cemoohan itu tidak menyurutkan niat mereka. lalu mereka berfikir untuk menjual mobil butut satu satunya milik mereka, dan uang hasil penjualan mobil itu mereka gunakan untuk membangun 1 kamar kosan lagi. Dengan 2 kamar kosan dan ditambah penghasilan pak nasir itulah mereka bertahan hidup. Tahun demi tahun, usaha mereka semakin sukses. Kini mereka memiliki kos kosan yang dapat memenuhi kebutuhan mereka lebih dari cuukup. Dan dengan uang dari kos kosan itu siapa  yang menyangka sepasang suami istri yang di anggap tidak mampu oleh saudaranya sendiri mampu memasuki kuliah anak pertamanya di AIP ( Akademi Ilmu Pelayaran ) Jakarta, anak keduanya di STPI ( Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia) Jakarta, anak ketiganya di Universitas Bung Hatta Padang, anak keempatnya di STIP ( Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran) Jakarta, dan anak terakhirnya kuliah di salah satu PTN terbaik di Indonesia.

            Hanya sujud syukur dan kata hamdalah yang mampu mereka ucapkan, ketika cita cita sepasang suami istri itu dapat terwujud, walau awalnya mereka harus mendapat cemoohan dari keluarga sendiri. Dan sekarang semua anak mereka sudah bekerja di bidang mereka masing masing. Anak pertama bekerja di salah satu kapal asing sebagai engineer, anak kedua bekerja di salah satu maskapai penerbangan sebagai pilot, anak ketiga mereka telah meninggal 5 tahun yang lalu, anak keempat mereka juga sekarang sudah bekerja disalah satu kapal asing, dan anak kelimanya baru memasuki tingkat 1 di PTN yang ia masuki.

            :) !

Nama   : Resti Hidayah

NRP    : G64100074

Laskar : 7 (tujuh)

“Allah Hanya Akan Memberikan Apa yang Kita Butuhkan”

 

            Masih teringat jelas memori 3 tahun yang lalu, saat semua murid kelas 3 SMPN 2 Dumai dinyatakan lulus 100 % dalam Ujian Nasional (UN). Dimana waktu itu air mata kebahagian dan sorak sorai kelulusan bergema di seluruh sudut sekolah kami. Yaaa…… itu adalah masa paling indah waktu SMP bagi seorang Resti. Dan seperti janji mereka bertiga; Resti, Feni dan Novi, kami akan memasuki SMA favorit di kota mereka.

            Resti sudah tak sabar rasanya ingin memberikan berita bahagia ini kepada mama dan papanya. Setelah tiba di rumah, Resti segera menemui papanya.. “Pa….. adek lulus…” teriak dia dari jauh. “papa udah tau kok !” seru papa. “loh… kok papa tau?” tanya resti bingung . Lalu papa mendekati.y dan mengelus kepalanya sambil berkata “karena kamu kan anak papa.. jadi gag di kasih taupun, papa yakin kamu pasti lulus!”. Suasana sempat hening sebentar, lalu papa memulai pembicaraan lagi. “dek..ntar kamu masuk SMANDA aja ya… mama dan papa sudah bicarain semuanya tadi malam” seru papa . “haaa..?? kok mama papa mutusin semuanya tanpa minta pendapat adek dulu ?? paa…. Adek tu udah janjian ama feni dan novi.. kami bakalan masuk SMA BINSUS… !” protes resti. “BINSUS..?? itu kejauhan ! kamu sekolah di SMANDA aja.. selain dekat dari rumah, SMANDA juga ga kalah bagusnya dengan BINSUS” jawab papa. “tapi pa?” lanjut resti. “udah… pokoknya kamu masuk SMANDA!” tegas papa. Karena kesal, akhirnya resti masuk ke kamarnya dan meninggalkan papanya begitu saja.

            Dikamar resti gag tau harus berbuat apa. Perasaan kecewa, kesal, sedih, marah, semua ada dalam benaknya saat itu. Selama seharian dia hanya bisa melamun dan gag mau keluar kamar sebagai bentuk protesnya kepada keputusan kedua orang tuanya. Resti bingung memikirkan jalan fikiran kedua orang tuanya. Tapi (tok…tokk…tokkk) suara ketukan pintu itu membuyarkan lamunannya. Lalu terlihat sesosok wanita masuk ke kamarnya dan mendekatinya dan berkata “adeg…. Udahlah… mama ngerti kamu sedih dengan keputusan kami.. tapi kami hanya ingin yang terbaik untuk kamu !” sambil mengusap airmata resti . “tapi ini gag adil ma… adeg kan dah janji ama feni dan novi…kami bakalan masuk BINSUS… mama kan tau BINSUS tuu sekolah favorit… ngapa sih gag da yang ngerti?” jawab resti. Sejenak mama menghela nafasnya dan menjawab pertanyaan resti “ iyaa…. Mama tau.. tapi apapun alasan adek, itu semua gag akan ngerubah keputusan kami. Kami punya alasan sendiri mengapa kami ngambil keputusan ini. Jadilah wanita dewasa yang mampu berfikir positif terhadap semua yang terjadi sama kehidupan kamu!. Lalu mama keluar dan meninggalkan resti sendirian .

            Resti berfikir dan bertanya dalam hatinya “mengapa Allah gag memberikan apa yang aku inginkan?  Apa semua usaha aku selama 3 tahun di SMP akan sia sia? Apa do’a aku untuk masuk SMA pilihan aku gag didengar ama Allah..??” resti hanya bisa bertanya dan menduga atas pilihan kedua orangtuanya ini.

            Dan seperti pilihan kedua orangtuanya, akhirnya resti masuk SMANDA ! walaupun berat, tapi mau gag mau.. resti harus mau! Selama 2 tahun  di SMANDA, resti masih bertanya tanya mengapa dia harus berada di SMA ini, mengapa Allah gag memberikan apa yang dia inginkan?, semua tanya itu masih melekat di fikirannya sampai saat itu. Tapi, ketika tahun ke 3 dia berada di SMANDA, akhirnya dia menemukan jawaban dari semua tanyanya selama ini. Ketika ia mengirimkan formulir USMI IPB dan ia pun dinyatakan lulus di departemen Ilmu Komputer IPB. Dan akhirnya dia pun tau, kenapa orang tuanya menginginkan dia masuk SMANDA.. karena mereka tau hanya di SMANDA yang memiliki jalur PBUD yang banyak, sehingga bisa memudahkan dia untuk memasuki PTN  yang dia inginkan.

            Sekarang resti tau…. Bahwa Allah hanya akan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan ! dan resti pun tau bahwa setiap orang tua pasti selalu memberi yang terbaik untuk anak anaknya !

Luv u Allah… luv u mom… n luv u dad…

I don’t know… what can I do without you ! :’)